Indonesiainside.id – Pemerintah terus mendorong pertumbuhan dan pengembangan industri manufaktur sebagai penggerak utama perekonomian nasional, salah satunya melalui penyediaan lapangan kerja yang berkelanjutan dan inklusif.
Selain mengejar peningkatan kuantitas tenaga kerja, aspek inklusivitas menjadi perhatian utama, termasuk keterbukaan dan kesetaraan kesempatan kerja bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, agar dapat berpartisipasi aktif dalam pembangunan industri nasional.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa penguatan sektor industri manufaktur harus berjalan seiring dengan prinsip keadilan sosial dan inklusivitas. Pasalnya, sektor ini memiliki peran strategis dalam menyerap tenaga kerja nasional.
“Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian berkomitmen memastikan pembangunan industri juga membuka ruang partisipasi yang setara bagi penyandang disabilitas, sehingga mereka dapat berkontribusi secara produktif dan mandiri dalam ekosistem industri nasional,” ujar Menperin dalam keterangannya, Selasa (3/2).
Sejalan dengan komitmen tersebut, Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin berkolaborasi dengan startup Top Loker (TopLoker.com) menyelenggarakan kegiatan Pengembangan Inklusi Sektor Manufaktur untuk Disabilitas di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Semarang, 28 Januari 2026.
Direktur Jenderal IKMA Reni Yanita menyampaikan, kegiatan ini menjadi wujud kolaborasi nyata antara pemerintah dan dunia usaha dalam memperluas akses kerja inklusif bagi penyandang disabilitas di sektor industri strategis.
“Kami bersama startup Top Loker menginisiasi kegiatan ini sebagai wadah yang membuka kesempatan dan peluang bagi teman-teman disabilitas untuk dapat berkarya dan berpartisipasi di sektor industri,” ujar Reni.
Hingga Agustus 2025, Kemenperin mencatat jumlah tenaga kerja sektor manufaktur mencapai 20,26 juta orang atau sekitar 13,83 persen dari total tenaga kerja nasional. Dengan penerapan prinsip inklusivitas, sektor ini diharapkan mampu melibatkan lebih banyak tenaga kerja penyandang disabilitas.
Namun demikian, Reni mengakui masih terdapat sejumlah tantangan dalam akses penyandang disabilitas ke sektor manufaktur, seperti keterbatasan informasi lowongan kerja, kesenjangan kompetensi dengan kebutuhan industri, minimnya jejaring kemitraan formal, serta lingkungan kerja yang belum sepenuhnya inklusif.
“Kegiatan ini bertujuan meningkatkan serapan tenaga kerja penyandang disabilitas sekaligus membuka akses kerja sama antara SLB dan industri manufaktur,” jelasnya.
Melalui kegiatan tersebut, peserta didik disabilitas tingkat SMA/sederajat dibekali pemahaman mengenai kebutuhan kompetensi industri agar mampu menyesuaikan diri dengan standar dan ekspektasi dunia kerja. Selain itu, kegiatan ini juga diarahkan untuk membangun jejaring kemitraan berkelanjutan antara satuan pendidikan disabilitas, peserta didik, dan dunia usaha.
Sebanyak 45 siswa disabilitas kelas XII SLB dari delapan kabupaten/kota di Jawa Tengah berkesempatan bertemu langsung dengan 24 perusahaan manufaktur dari sektor industri agro, elektronik, tekstil dan produk tekstil, serta industri aneka.
“Perusahaan manufaktur akan berdiskusi langsung dan menjalin komunikasi berkelanjutan dengan kelompok disabilitas yang didampingi oleh SLB Negeri Semarang dan Top Loker,” tambah Reni.
Dirjen IKMA menegaskan, sektor manufaktur membutuhkan sikap kerja tekun, teliti, konsisten, dan loyal, karakter yang justru sering menjadi keunggulan penyandang disabilitas. Menurutnya, inklusivitas di sektor industri bukan sekadar pemenuhan regulasi, melainkan investasi sumber daya manusia yang bernilai bagi produktivitas dan keberlanjutan industri.
Sebagai Juara 1 Program Startup for Industry Kemenperin 2022, Top Loker menghadirkan platform khusus untuk menjembatani penyandang disabilitas dengan peluang kerja di sektor manufaktur.
“Kami ingin semakin banyak pelaku industri yang peduli dan membuka kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk bekerja dan berkembang,” ujar CEO Top Loker Josep Teguh Santoso.
Program ini turut didukung oleh SLB Negeri Semarang, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah, serta Universitas Stekom guna memastikan keberlanjutan kolaborasi antara dunia pendidikan dan industri.














