Oleh: Herry M Joesoef
Indonesiainside.id, Jakarta – Memberi manfaat adalah ajaran mulia dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Dan, manusia yang baik itu adalah mereka yang bermanfaat. Beliau bersabda:
خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Imam Ahmad, ath-Thabrani dan ad-Daruqutni)
Memberi manfaat itu bisa dengan beragam aktifitas. Mengajar, memberi nasihat, sedekah, memberi makan dan minum orang-orang yang memerlukannya, dan seterusnya.
Dikisahkan, Imam as-Subki menderita demam. Majelis pekanan dimana ia membacakan sirah Ibnu Hisyam, tetap berjalan seperti biasa. Padahal, asistennya sudah meminta dengan sangat agar Syekh beristirahat dulu, supaya cepat sembuh. Tapi apa jawaban Imam as-Subki? “Demi Allah, saya tidak akan membatalkan majelis yang membahas sejarah Rasulullah.”
Setelah beberapa bulan di Damaskus, Imam as-Subki pergi ke Mesir. Ia merasa ajalnya sudah mendekat, lalu memanggil putranya, Tajuddin as-Subki dan memberi kabar bahwa ajalnya sudah dekat. Beberapa hari sesampainya di Mesir, Imam as-Subki wafat, tahun 756 H.
Rupanya, demam yang ia derita adalah akibat racun yang menggerogoti tubuhnya. Beliau tahu siapa yang meracuninya, tapi ia tidak mau menyebutkan siapa orangnya. Bahwa ia diracun, hanya beberapa sahabat dekatnya yang diberi tahu. Sampai ajal menjemputnya, tak ada yang tahu, siapa gerangan orang jahat yang tega meracuninya.
Begitulah akhlak seorang ulama. Ia tahu siapa yang memberi racun pada makanannya, tetapi ia tidak mau menyebutkan namanya. Cukup dia dan Allah Ta’ala yang tahu. Dan itu ia pegang sampai ajal menjemput. Baginya, meskipun ajal sudah dekat, ia tidak mau kehilangan momentum untuk terus berbagi ilmu dan memberi manfaat pada orang lain.
Imam as-Subki telah memberi pelajaran kepada kita, bahwa memberi manfaat kepada sesama tak boleh ada jeda, meskipun sudah di ujung ajal. (HMJ)














