Di tengah kehidupan sekarang yang serba cepat, orang sibuk dengan pekerjaan, kuliah, dan urusan digital, sehingga ajaran tentang zakat, infak, dan sedekah sering kali tenggelam begitu saja.
Oleh: Uswatun Hasanah *
Padahal, tiga amalan ini adalah salah satu pilar penting dalam membangun kepedulian sosial. Di sinilah peran ulama dan dai menjadi sangat berarti. Mereka bukan hanya menyampaikan ilmu agama, tetapi juga menghidupkan nilai-nilai kebaikan yang mungkin mulai redup di tengah hiruk-pikuk zaman.
Kalau kita perhatikan, ulama dan dai adalah pihak yang paling dekat dengan masyarakat dalam urusan pemahaman agama. Melalui ceramah, kajian, atau bahkan postingan singkat di media sosial, mereka terus mengingatkan bahwa zakat bukan sekadar kewajiban tahunan, tetapi bentuk pembersihan hati dan harta, sebagaimana Allah berfirman, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka untuk membersihkan dan mensucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103). Ayat ini bukan hanya perintah, tapi juga pengingat bahwa zakat adalah proses menata jiwa dan kepedulian.
Selain zakat, para dai juga berperan besar dalam menyebarkan semangat infak dan sedekah. Banyak orang baru tersentuh ketika ulama menjelaskan sedekah dengan cerita-cerita nyata—bagaimana satu bantuan kecil bisa mengubah hidup seseorang. Rasulullah SAW juga menegaskan hal ini dengan sabda beliau, “Sedekah tidak akan mengurangi harta.” (HR. Muslim). Ketika hadis seperti ini disampaikan dengan bahasa yang sederhana dan dekat dengan pengalaman sehari-hari, orang jadi lebih mudah menerima dan mengamalkan.
Di masa sekarang, ulama dan dai juga punya tantangan baru: menjangkau masyarakat yang semakin digital. Karena itu, banyak dai membuat konten edukasi di TikTok, Instagram, YouTube, atau podcast. Cara seperti ini membuat nilai zakat, infak, dan sedekah lebih mudah masuk ke kalangan muda. Pesan-pesan keagamaan yang dulu hanya bisa didengar di masjid, sekarang bisa sampai ke ribuan orang dalam hitungan menit. Ini membuat nilai ZIS lebih hidup, bukan hanya sebagai teori, tapi sebagai gaya hidup yang melekat pada keseharian.
Peran dan dan ulama dan sangat penting dalam meluruskan kesalahpahaman. Misalnya, sebagian orang masih menganggap zakat itu sekadar “bagi-bagi uang”, padahal tujuannya jauh lebih besar: membangun kemandirian umat. Dengan penjelasan yang benar, masyarakat jadi paham bahwa zakat bukan hanya untuk dana darurat, tetapi bisa menjadi modal pemberdayaan ekonomi, pendidikan, dan perbaikan kualitas hidup.
Tidak sampai di itu, ulama dan dai membantu masyarakat memahami bahwa memberi itu bukan tentang angka, tapi tentang ketulusan. Mereka sering mengingatkan bahwa Allah menjanjikan balasan yang berlipat-lipat bagi orang yang bersedekah, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Baqarah: 261. Keteladanan para dai yang ringan tangan dalam berbagi sering kali menjadi inspirasi tersendiri bagi masyarakat.
Selain ceramah, mereka juga hadir dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan seperti penggalangan donasi, bakti sosial, pendampingan mustahik, dan program-program sosial lainnya. Kehadiran langsung seperti ini membuat masyarakat melihat bahwa nilai zakat, infak, dan sedekah bukan hanya teori, tapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Bahkan banyak dai yang terjun langsung ke lapangan, mengunjungi keluarga tidak mampu, membantu anak yatim, atau mendampingi usaha kecil. Cara ini membuat dakwah mereka terasa lebih “hidup” dan menyentuh hati.
Pada akhirnya, keberhasilan menghidupkan nilai zakat, infak, dan sedekah tidak hanya bergantung pada lembaga zakat atau sistem yang bagus, tetapi juga pada bagaimana ulama dan dai menyampaikan pesan-pesan itu dengan bahasa yang menggerakkan hati. Mereka menjadi jembatan antara ajaran agama dan realitas kehidupan modern. Melalui sentuhan mereka, umat tidak hanya paham hukum-hukumnya, tetapi juga merasakan keindahan dan keberkahan dari berbagi.
Karena itu, dapat dikatakan bahwa di masa kini, ulama dan dai bukan hanya pengajar, tetapi penggerak. Mereka menghidupkan kembali semangat berbagi, menguatkan empati sosial, dan memastikan nilai ZIS tetap relevan serta menjadi bagian dari kehidupan umat. Dengan bimbingan mereka, ajaran tentang berbagi tidak berhenti pada kata-kata, tapi berubah menjadi tindakan nyata yang memberi manfaat luas bagi masyarakat. Wallahu A’lam!
* Mahasiswa IAI STIBA MAKASSAR, Penerima Beasiswa Pendidikan Kader Imam Dai, BAZNAS Enrekang.














