Allah SWT berfirman, “Dan tidaklah Tuhanmu membinasakan kota-kota secara zalim, sedang penduduknya adalah orang-orang mushlih (yang berbuat kebaikan).” (QS. Hud: 117). Ayat ini mengisyaratkan bahwa supaya selamat dari pembinasaan Allah terhadap orang zalim, maka tidak merasa puas menjadi saleh individu tapi sekaligus sosial.
INDONESIAINSIDE.ID – Kata “saleh” sering kali diartikan sebagai kesalehan pribadi, namun kesalehan tidak hanya berhenti pada diri sendiri. Kesalehan individu harus berkembang menjadi kesalehan sosial, di mana individu yang saleh juga membawa perbaikan di sekitarnya.
Hal ini mencakup keluarga, lingkungan kerja, dan setiap tempat di mana kita berinteraksi dengan orang lain. Inilah yang akan membawa perubahan nyata dan mendalam dalam kehidupan kita dan masyarakat secara keseluruhan.
Menjadi Saleh dan Muslih
Kesalehan tidak hanya terbatas pada perbaikan diri sendiri. Kita juga memiliki tanggung jawab untuk memperbaiki orang-orang di sekitar kita. Dalam keluarga, misalnya, penting untuk memperbaiki hubungan yang terputus antara ayah dan anak, suami dan istri, serta antara saudara.
Nabi Muhammad SAW mengingatkan bahwa fitnah atau ujian terbesar sering kali berasal dari keluarga. Beliau bersabda, “Fitnah seorang laki-laki dalam keluarga, harta, diri, anak, dan tetangga, dapat dihapus dengan puasa, shalat, sedekah, serta amar ma’ruf nahi munkar.” (Muttafaqun ‘alaih).
Kesibukan mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan keluarga bisa menjadi sumber ujian. Demikian pula, seorang wanita sering kali diuji dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Maka, setiap individu yang saleh harus berusaha tidak hanya untuk memperbaiki diri, tetapi juga memperbaiki kondisi sekitarnya.
Prinsip-Prinsip Perbaikan dalam Rumah Tangga Muslim
Surah At-Tahrim memberikan panduan penting untuk memperbaiki rumah tangga Muslim. Ayat-ayat ini ditujukan kepada Nabi SAW, namun juga relevan bagi umatnya.
Ikhlas
Allah SWT berfirman, “Wahai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu, karena mencari keridhaan istri-istrimu? Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Tahrim [66]: 1). Untuk menjadi individu yang saleh dan muslih, kita harus mencari ridha Allah semata, bukan mencari keridhaan manusia.
Mengabaikan Kesalahan Kecil
Nabi SAW mengetahui rahasia yang disampaikan istri-istrinya namun hanya menegur sebagian dan mengabaikan sebagian lainnya. Allah SWT berfirman, “…Dikenalkan sebagian dan diabaikan sebagian…” (QS. At-Tahrim [66]: 3). Mengabaikan kesalahan kecil adalah bagian dari kebijaksanaan dalam hubungan manusia.
Mencari Keridhaan Suami
Allah SWT berfirman, “Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sungguh, hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan)…” (QS. At-Tahrim [66]: 4). Taat kepada suami adalah salah satu tugas utama wanita Muslim.
Takwa
Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…” (QS. At-Tahrim [66]: 6). Menjaga diri dan keluarga dari api neraka adalah dengan melaksanakan ketaatan kepada Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Tidak Membenarkan Kesalahan
Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang kafir, janganlah kamu mengemukakan alasan pada hari ini. Kamu hanya diberi balasan menurut apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. At-Tahrim [66]: 7). Mengakui kesalahan dan tidak mencari-cari alasan adalah bagian dari memperbaiki diri.
Tobat yang Sesungguhnya
Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya…” (QS. At-Tahrim [66]: 8). Taubat yang sebenar-benarnya adalah taubat yang tidak kembali kepada dosa.
Mengelola Emosi dan Kemarahan
Allah SWT berfirman, “Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka…” (QS. At-Tahrim [66]: 9). Mengelola kemarahan dengan bijak dan mengarahkannya pada hal-hal yang benar adalah tanda kesalehan.
Menjadi individu yang saleh dan muslih adalah kombinasi dari perbaikan diri sendiri dan perbaikan lingkungan sekitar. Kesalehan yang sebenarnya akan tercapai ketika kita tidak hanya menjaga diri kita sendiri tetapi juga membawa kebaikan dan perbaikan bagi orang-orang di sekitar kita. Inilah yang akan membawa perubahan yang sejati dan mendalam dalam masyarakat kita. (MBS)













