Indonesiainside.id, PBB–Pandemi Covid-19 memperburuk krisis pada perkembangan anak usia dini, dengan lebih dari 40 juta anak di seluruh dunia kehilangan peluang untuk mendapatkan pendidikan prasekolah yang sangat penting. Pernyataan ini dilaporkan Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) yang dirilis Rabu (22/7).
“Keluarga membutuhkan dukungan dari pemerintah maupun tempat kerja mereka untuk mengatasi masalah ini serta menjaga perkembangan dan pendidikan anak mereka,” tutur Direktur Eksekutif UNICEF Henrietta Fore dalam rilis berita yang menyertai taklimat kebijakan bertajuk “Pengasuhan anak dalam krisis global: Dampak Covid-19 terhadap pekerjaan dan kehidupan keluarga.”
Laporan setebal 11 halaman yang disusun oleh Kantor Riset UNICEF – Innocenti ini menelaah kondisi pengasuhan anak dan pendidikan anak usia dini secara global. Laporan mencakup analisis dampak penutupan layanan vital keluarga dalam skala luas yang diterapkan lantaran Covid-19.
Laporan tersebut menyatakan bahwa lockdown mengakibatkan banyak orang tua berjuang menyeimbangkan antara pengasuhan anak dan pekerjaan mata pencaharian mereka. Karantin juga menambah beban lebih besar dipikul kaum wanita yang rata-rata menghabiskan waktu tiga kali lebih banyak untuk mengerjakan pekerjaan pengasuhan dan rumah tangga dibanding laki-laki.
Lockdown tersebut juga memicu krisis yang lebih dalam bagi keluarga dengan anak kecil khususnya di negara berpendapatan rendah dan menengah, dengan banyak di antaranya sudah tidak memiliki akses untuk mendapatkan layanan perlindungan sosial, sebut laporan itu. Pengasuhan anak bersifat esensial dalam memberikan layanan, kasih sayang, perlindungan, stimulasi, dan nutrisi yang terpadu serta, di saat yang sama, bisa membuat anak mengembangkan kecakapan sosial, emosional, maupun kognitif, papar laporan tersebut.
Lebih lanjut laporan itu mengatakan banyak anak usia dini yang harus tetap berada di rumah tidak dapat bermain. Mereka juga tidak mendapatkan dukungan pembelajaran dini yang mereka perlukan untuk perkembangan yang sehat.
“Halangan pendidikan akibat pandemi Covid-19 membuat anak-anak tidak bisa mendapatkan pendidikan di titik awal terbaik,” kata Fore. “Pengasuhan anak dan pendidikan usia dini membangun fondasi yang menjadi dasar bagi semua aspek dalam perkembangan anak. Pandemi membuat fondasi itu sangat terancam.”
Berdasarkan data terkini, di 54 negara berpendapatan rendah dan menengah, sekitar 40 persen anak berusia antara tiga hingga lima tahun tidak menerima stimulasi sosial-emosional dan kognitif dari orang dewasa di rumah mereka. Menurut laporan itu, kurangnya opsi pengasuhan anak dan pendidikan usia dini juga membuat banyak orang tua, khususnya para ibu yang bekerja di sektor informal, tidak punya pilihan selain membawa anak mereka ke tempat kerja, sebut laporan itu.
Lebih dari sembilan di antara 10 wanita di Afrika dan hampir tujuh dari 10 wanita di kawasan Asia-Pasifik bekerja di sektor informal serta memiliki akses terbatas untuk mendapatkan bentuk perlindungan sosial apa pun. Banyak orang tua terjebak dalam pekerjaan bergaji rendah yang tidak dapat diandalkan ini, yang berkontribusi pada keberlanjutan siklus kemiskinan antargenerasi, imbuh taklimat kebijakan tersebut.
Selain itu, akses mendapatkan pengasuhan anak dan pendidikan anak usia dini yang terjangkau dan berkualitas sangat penting bagi pembangunan keluarga dan masyarakat yang kohesif secara sosial. (ant/NE)














