Indonesiainside.id – PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) kembali menunjukkan perannya sebagai barometer pengelolaan transportasi publik modern di Indonesia. Hal ini terlihat dari kunjungan studi banding Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang secara khusus ingin menggali strategi dan inovasi layanan yang diterapkan di ibu kota.
Rombongan BPK DIY dipimpin langsung oleh Kepala BPK Perwakilan DIY Agustin Sugihartatik, didampingi Kepala Bidang Pemeriksaan Ridwan Sani Matondang serta jajaran pemeriksa lainnya. Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya peningkatan kualitas pengawasan dan tata kelola sektor transportasi di wilayah DIY.
Direktur Utama Transjakarta, Welfizon Yuza, menyampaikan apresiasinya atas kunjungan tersebut sekaligus menegaskan bahwa kehadiran BPK DIY merupakan bentuk pengakuan terhadap transformasi layanan transportasi publik Jakarta.
“Ini menjadi pengakuan atas upaya kami dalam memajukan transportasi publik di Jakarta,” ujarnya, Jumat (28/11).
Dalam diskusi yang berlangsung konstruktif, kedua pihak membahas berbagai isu strategis mulai dari manajemen operasional, tantangan layanan, inovasi digital, hingga pengelolaan risiko dalam sistem transportasi massal.
Welfizon berharap pengalaman Transjakarta dapat menjadi referensi bagi daerah lain dalam membangun sistem transportasi yang efisien dan berkelanjutan.
“Kami berharap pengalaman ini dapat memberikan nilai tambah positif bagi BPK perwakilan DIY, dan juga mendorong langkah baru dalam memajukan sistem transportasi di seluruh Indonesia,” katanya.
Saat ini, Transjakarta telah menjangkau 91,8 persen wilayah layanan dan melayani rata-rata lebih dari 1,4 juta pelanggan per hari. Untuk mendukung operasional tersebut, Transjakarta mengelola infrastruktur berskala besar, meliputi 5.163 unit armada bus, 409 km jaringan koridor, dan 249 halte BRT dan 8.279 titik bus stop.
Dalam kunjungan ini, delegasi BPK DIY turut mengapresiasi fasilitas penunjang keamanan dan operasional, seperti command center yang memantau pergerakan armada, serta pemanfaatan aplikasi Sistem Manajemen Pengendalian Operasi Bus (SMPOB) Syntra yang memudahkan kontrol operasional secara real time.
Tak hanya fokus pada teknologi, kesiapan sumber daya manusia juga menjadi sorotan. Melalui Transjakarta Academy, para pramudi mendapatkan pelatihan komprehensif, termasuk simulasi cozy braking dan latihan parkir presisi dengan toleransi jarak hanya 10 sentimeter dari pijakan penumpang di halte.
Transjakarta juga terus memperkuat transformasi digital melalui aplikasi TJ: Transjakarta dan integrasi dengan Google Maps, yang memungkinkan pengguna melacak posisi bus secara real time, mengetahui estimasi waktu perjalanan, serta menemukan halte terdekat dengan mudah.
Kunjungan ini menegaskan posisi Transjakarta bukan hanya sebagai tulang punggung mobilitas warga Jakarta, tetapi juga sebagai model rujukan pengembangan transportasi publik modern bagi daerah lain di Indonesia.














