Indonesiainside.id – Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr. Mohammad Syahril, menegaskan bahwa vaksin Mpox yang digunakan di Indonesia telah mendapat persetujuan resmi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), sehingga vaksin tersebut bukanlah eksperimen. Pernyataan ini disampaikan sebagai tanggapan terhadap klaim yang beredar bahwa vaksin Mpox merupakan vaksin eksperimental dan ajakan untuk menolak penggunaannya.
“Vaksin Mpox sudah menerima Emergency Use Listing (EUL) dari WHO dan Emergency Use Authorization (EUA) dari BPOM, yang berarti vaksin ini boleh digunakan dalam kondisi darurat,” jelas Syahril dalam keterangan resmi, dikutip ANTARA, Kamis (12/9).
Syahril menyebutkan bahwa informasi yang menyebut vaksin Mpox sebagai vaksin eksperimen adalah keliru. Klaim yang salah ini juga disertai seruan kepada masyarakat untuk menolak vaksin tersebut, padahal vaksinasi Mpox adalah bagian dari upaya penting untuk mencegah penyebaran virus Mpox (MPXV).
Syahril menjelaskan bahwa jenis vaksin yang digunakan di Indonesia adalah Modified Vaccinia Ankara-Bavarian Nordic (MVA-BN), sebuah vaksin generasi ketiga yang tidak mengandung virus hidup dan tidak dapat bereplikasi. Vaksin ini sudah digunakan sejak tahun 2023 di Indonesia, menyusul temuan kasus konfirmasi Mpox di tanah air.
Mengacu pada dokumen WHO terbaru berjudul ‘Weekly Epidemiological Record: Smallpox and Mpox (Orthopoxviruses) Vaccine Position Paper’, Syahril menyebutkan ada tiga vaksin yang direkomendasikan untuk pencegahan Mpox. Ketiga vaksin ini awalnya dikembangkan untuk cacar, tetapi kini diperluas penggunaannya untuk melawan Mpox.
Pertama, MVA-BN yang disetujui pada 2013 untuk pencegahan cacar di Kanada dan Uni Eropa, serta pada 2019 diperluas untuk pencegahan Mpox di Amerika Serikat. Uni Eropa menyetujui penggunaan MVA-BN untuk Mpox pada orang dewasa pada Juli 2022. Lalu kedua, LC16m8, vaksin ini disetujui di Jepang sejak 1975 untuk penyakit cacar tanpa batasan usia dan diperluas penggunaannya untuk Mpox pada 2022.
Ketiga adalah ACAM2000, ini merupakan vaksin generasi kedua yang telah digunakan sejak 2007 untuk imunisasi cacar di Amerika Serikat. Pada 2024, vaksin ini disetujui untuk pencegahan Mpox di bawah protokol Investigasi Obat Baru Akses yang Diperluas.
Syahril juga menyebutkan bahwa penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal ‘Vaccines against mpox: MVA-BN and LC16m8’ menunjukkan bahwa MVA-BN memiliki efektivitas sebesar 62 persen hingga 85 persen dalam menurunkan risiko penyakit Mpox. Pada orang yang telah terpapar virus, vaksin ini mampu menurunkan risiko penyakit sebesar 20 persen.
Sementara itu, LC16m8 juga terbukti memberikan perlindungan yang kuat terhadap virus Mpox berdasarkan hasil uji klinis. Selain itu, vaksin ACAM2000 yang diuji melalui model hewan menunjukkan kemampuannya dalam melawan virus MPXV jika dibandingkan dengan kelompok kontrol yang tidak divaksinasi.
Dalam pelaksanaannya, Syahril menjelaskan bahwa Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas KIPI) turut berperan dalam memantau keamanan vaksin dan memastikan manfaatnya bagi masyarakat. Vaksinasi Mpox di Indonesia merupakan langkah nyata Pemerintah dalam melindungi masyarakat dari ancaman penyebaran virus ini. Syahril berharap, melalui vaksinasi dan langkah pencegahan yang tepat, Indonesia dapat mengendalikan penyebaran Mpox dan memastikan kesehatan publik tetap terjaga.












