Indonesiainside.id – Hubungan Indonesia dan Korea Selatan kembali ditegaskan sebagai kemitraan strategis jangka panjang yang tidak hanya bertumpu pada perdagangan dan investasi, tetapi juga menyentuh sektor pertahanan, teknologi kecerdasan buatan (AI), hingga pembangunan kapasitas sumber daya manusia.
Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri RI, Santo Darmosumarto, menegaskan bahwa Seoul tetap menjadi salah satu mitra utama Indonesia dalam arsitektur Indo-Pasifik yang semakin kompetitif. Dalam pandangan pemerintah Indonesia, Korea Selatan bukan lagi sekadar partner ekonomi, melainkan telah berkembang menjadi special strategic partner dengan dimensi kerja sama yang semakin luas dan mendalam.
Pernyataan tersebut mencerminkan bahwa arah diplomasi Indonesia di bawah pemerintahan Prabowo Subianto tetap menempatkan Korea Selatan di “halaman pertama” hubungan luar negeri Indonesia. Hal ini terlihat dari kunjungan Presiden Prabowo ke Seoul yang membawa pesan kesinambungan hubungan bilateral, terutama di bidang industrialisasi, investasi, dan pertahanan.
Salah satu simbol paling nyata dari kemitraan strategis tersebut ialah proyek pengembangan jet tempur bersama KF-21 Boramae. Bagi Indonesia, proyek ini bukan hanya soal pengadaan alat utama sistem senjata, tetapi bagian dari upaya jangka panjang membangun kemandirian industri pertahanan nasional.
Namun, Santo mengingatkan bahwa tantangan Indonesia bukan sekadar memperbanyak kerja sama pertahanan dengan berbagai negara seperti Prancis, Turki, maupun Tiongkok. Yang lebih penting ialah memastikan seluruh kerja sama itu dapat terintegrasi menjadi sistem pertahanan nasional yang utuh dan efektif. Di tengah dunia yang makin multipolar, Indonesia tampak memilih strategi diversifikasi mitra tanpa terjebak dalam blok kekuatan tertentu.
Dalam konteks geopolitik Indo-Pasifik, Indonesia dan Korea Selatan dipandang memiliki posisi serupa sebagai middle power — negara menengah yang berupaya menjaga keseimbangan kawasan di tengah rivalitas kekuatan besar seperti Amerika Serikat dan Tiongkok. Konsep kerja sama negara menengah bahkan pernah dikenal melalui akronim KIA (Korea, Indonesia, Australia), yang mencerminkan kesamaan kepentingan ketiga negara dalam menjaga stabilitas regional.
Menariknya, pembahasan hubungan strategis RI-Korsel tidak hanya berhenti pada isu militer dan ekonomi. Santo juga menyoroti pentingnya kreativitas intelektual manusia di tengah pesatnya perkembangan AI. Menurutnya, teknologi secanggih apa pun tetap membutuhkan keberanian berpikir non-linear yang sering kali melahirkan terobosan besar dalam sejarah.
Ia mencontohkan konsep nuclear deterrence atau penangkalan nuklir yang dahulu dianggap paradoksal: bagaimana senjata pemusnah massal justru dipercaya dapat menjaga perdamaian dunia. Meski terdengar bertentangan dengan logika umum, sejarah menunjukkan konsep tersebut menjadi salah satu faktor yang mencegah konflik besar antarnegara selama era Perang Dingin.
Pandangan ini menjadi pengingat bahwa di era AI, manusia tetap memegang peran utama dalam melahirkan gagasan strategis dan inovasi kebijakan. Karena itu, lomba menulis strategis yang digelar Indonesia Strategic and Defence Studies bukan sekadar kompetisi akademik, melainkan investasi pemikiran jangka panjang bagi masa depan Indonesia.
CEO sekaligus Co-Founder ISDS, Dwi Sasongko, menilai diplomasi modern tidak lagi cukup dijalankan hanya oleh pemerintah. Hubungan antarnegara kini juga ditentukan oleh keterlibatan masyarakat melalui people-to-people engagement. Literasi strategis publik menjadi penting agar masyarakat tidak hanya menjadi konsumen informasi global, tetapi juga mampu menghasilkan analisis dan gagasan konstruktif tentang posisi Indonesia di Indo-Pasifik.
Di tengah ketidakpastian geopolitik dunia, hubungan Indonesia dan Korea Selatan menunjukkan bahwa kemitraan strategis abad ke-21 tidak lagi semata berbasis ekonomi. Pertahanan, teknologi, AI, pendidikan, hingga pertukaran gagasan menjadi fondasi baru diplomasi modern — sebuah hubungan yang dibangun bukan hanya antar pemerintah, tetapi juga antar masyarakat dan visi masa depan bersama.













