Indonesiainside.id– Sebuah mimpi buruk nyata dialami Holly LaFavers, seorang ibu asal Somerset, Amerika Serikat. Pagi itu, LaFavers merasa dadanya berdebar tak menentu saat hendak pergi ke gereja.
Nalurinya mendorongnya untuk membuka aplikasi mobile banking, dan di situlah mimpi buruk itu dimulai.
“Akun saya tiba-tiba negatif, saya panik. Ketika saya periksa, Amazon menagih sebesar US$4.200 (sekitar Rp63 juta). Saya hampir pingsan,” ujar LaFavers kepada The Guardian.
Rasa pusingnya semakin menjadi ketika ia mengetahui bahwa pelaku di balik transaksi fantastis itu adalah putranya, Liam, yang baru berusia delapan tahun. Tanpa sepengetahuannya, Liam telah memesan lebih dari 70.000 permen lolipop dari Amazon.
Liam, yang diketahui memiliki gangguan spektrum alkohol janin (FASD), memang diizinkan bermain dengan ponsel ibunya. Biasanya, ia hanya suka melihat-lihat barang di Amazon. Namun, kali ini, tanpa sadar ia menekan tombol “Beli”.
“Saya sudah bilang kepadanya untuk tidak menekan tombol itu. Namun, entah mengapa kali ini dia malah stres,” jelas LaFavers.
Ketika pengiriman datang, drama baru saja dimulai. Sebanyak 22 kotak besar lolipop tiba lebih dulu di depan pintu rumahnya. Liam yang melihatnya justru berteriak kegirangan, “Permenku telah tiba!”
Tak sampai dua jam, delapan kotak lagi menyusul. Total 70.000 permen teronggok di depan rumah mereka.
“Saya membuka pintu dan melihat kotak-kotak itu. Saya ingin menangis, tapi Liam justru bahagia,” ujar LaFavers.
Dalam kepanikan, LaFavers segera menghubungi Amazon untuk meminta pengembalian uang. Namun, sebagian besar permen sudah dikirimkan.
“Saya tidak tahu harus bagaimana, saya hampir kehilangan tabungan saya hanya karena lolipop,” katanya.
Menanggapi kejadian ini, LaFavers memberi saran kepada para orang tua. “Jangan panik… dan pastikan ponselmu terkunci,” tegasnya dengan napas berat.*














