Kurban di Masa Pandemi Covid-19: Pahala dan Asas Manfaat Lebih Besar

daging sapi
Panitia menata tumpukan daging sapi kurban hari raya Idul Adha. ANTARA FOTO/Rahmad.

Indonesiainside.id, Jakarta – Esensi ubudiyah dalam kurban adalah ketaatan dan kepatuhan atas tuntunan Rabb, baik tuntutan dalam konteks melakukan sesuatu yang datang dari perintah-Nya atau tuntutan sesuatu yang melarangnya. Hal ini disampaikan Dewan Syariah Pusat Zakat Umat (PZU), Ustaz Jeje Zaenudin dalam webinar kurban bersama Forum Zakat (FOZ), Jumat (3/7).

“Nah, ubudiyah secara besar dibagi dua, ada ubudiyah nafsiyah, ada ubudiyah maliyah. Ubudiyah nafsiyah atau jiwa, seperti shalat dan ubudiyah maliyah, seperti zakat, infak, sedekah, dan kurban,” ujar Ustaz Jeje.

Lebih lanjut, Ustaz Jeje menerangkan masing-masing ubudiyah ini memiliki fadilah (keistimewaan) yang berbeda. Misalnya, shalat merupakan ibadah yang utama, tetapi antara shalat yang satu dengan shalat yang lainnya memiliki keistimewaan yang berbeda.

“Begitupun dengan ubudiyah maliyah, antara sedekah dan berkurban, antara berzakat dengan berwakaf, nah keistimewaan ibadah dalam sesuatu memiliki faktor yang banyak, faktor internal balik lagi kepada pelaku ibadah tersebut. Semakin besar nilai keikhlasan dan kekhusyukan, maka semakin besar pahalanya,” ujarnya.

Menurut Ustaz Jeje, faktor internal ini sulit diukur. Sementara, faktor eksternal memiliki keistimewaan, misalnya Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsha, keistimewaan tersebut tidak bisa digantikan dengan keistimewaan shalat di tempat yang lain.

Ada juga keistimewaan waktu, misalnya keistimewaan waktu tanggal 10 Dzulhijjah dan hari tasyrik untuk berkurban, tidak mungkin diganti di waktu yang lain. Demikian pula faktor eksternal yang mempengaruhi situasi dan kondisi, seperti kondisi wabah Covid-19 yang saat ini dialami.

“Jadi, faktor situasi dan kondisi ini mempengaruhi keistimewaan, seperti di surat Al-Balad, apakah memerdekakan budak di saat orang lain belum merdeka, atau memberikan makanan ketika suatu kondisi yang sulit, karena itu Allah memuji orang yang tolong-menolong dalam kesulitan,” katanya.

Di hadits lain, para sahabat bertanya sedekah yang paling utama? Rasulullah menjawab adalah sedekah yang dikeluarkan ketika dalam kondisi sulit.

“Maka, faktor kebermanfaatan yang diterima oleh banyak orang, itu akan menentukan kualitas amal dan pahalanya. Termasuk berzakat atau berkurban di tengah pandemi Covid-19, inilah momentum kita meraih pahala yang lebih besar karena tantangannya juga besar,” ujarnya. (ASF)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here