Khutbah Pertama
الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونتوب إليه، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا محمدًا عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.
Amma ba’du.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benar takwa, menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan itulah bekal terbaik menuju kehidupan dunia dan akhirat.
Pada hari yang mulia ini, beberapa hari ke depan kita akan menyambut Hari Raya qurban. Bukan sekadar perayaan tahunan, tetapi momentum agung untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menumbuhkan kepedulian kepada sesama manusia.
Kata “qurban” berasal dari bahasa Arab: qaraba–yaqrabu–qurbanan yang berarti dekat. Maka ibadah qurban adalah ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berqurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2)
Ayat ini menunjukkan bahwa qurban adalah ibadah yang memiliki dua dimensi sekaligus: vertikal dan horizontal.
Secara vertikal, qurban adalah bentuk ketaatan dan penghambaan kepada Allah. Seorang mukmin menyembelih hewan bukan karena tradisi atau kebiasaan sosial, melainkan karena perintah Allah.
Allah menegaskan:
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37)
Maka hakikat qurban bukan pada banyaknya hewan, besarnya tubuh hewan, atau mahalnya harga qurban. Yang dinilai Allah adalah keikhlasan, ketakwaan, dan kepasrahan hati seorang hamba.
Sedangkan secara horizontal, qurban mengajarkan solidaritas sosial. Daging qurban dibagikan kepada fakir miskin, tetangga, dan masyarakat luas. Pada hari raya ini, kaum dhuafa ikut merasakan kebahagiaan. Islam mengajarkan bahwa ibadah tidak berhenti di sajadah, tetapi juga hadir dalam kepedulian sosial dan berbagi rezeki.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Syariat qurban memiliki akar sejarah yang sangat agung, yakni keteladanan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Ketika beliau mendapat perintah dalam mimpi untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail ‘alaihissalam, beliau tidak membantah dan tidak ragu. Nabi Ismail pun menjawab dengan penuh keimanan:
“Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffat: 102)
Inilah puncak pengorbanan: cinta kepada Allah di atas segala-galanya. Ketika Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail lulus dalam ujian keikhlasan itu, Allah menggantinya dengan sembelihan yang besar.
Peristiwa itu menjadi syariat yang terus hidup hingga hari ini. Setiap kali kita berqurban, sesungguhnya kita sedang menghidupkan sunnah Nabi Ibrahim.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun melaksanakan ibadah qurban dengan penuh kesungguhan. Dalam haji wada’, beliau menyembelih puluhan hewan qurban. Disebutkan dalam hadits riwayat Imam Muslim bahwa Rasulullah bersama para sahabat menyembelih hingga seratus ekor unta, sebagian beliau sembelih sendiri dan sebagian dilanjutkan oleh Ali bin Abi Thalib.
Hal itu menunjukkan besarnya perhatian Rasulullah terhadap syariat qurban. Qurban bukan sekadar ritual, tetapi simbol ketundukan total kepada Allah dan kasih sayang kepada umat manusia.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Di zaman sekarang, semangat qurban sangat relevan untuk kita hidupkan. Banyak orang mampu, tetapi enggan berbagi. Banyak orang memiliki kelebihan harta, tetapi miskin kepedulian. Qurban mendidik kita agar tidak diperbudak oleh dunia dan tidak terikat berlebihan pada harta benda.
Qurban juga mengajarkan bahwa untuk mendekat kepada Allah, kadang kita harus rela melepaskan sesuatu yang kita cintai: ego, kesombongan, kemalasan, bahkan kecintaan berlebihan terhadap dunia.
Semoga Allah menerima amal ibadah qurban kita, membersihkan hati kita, dan menjadikan kita hamba-hamba yang bertakwa.
أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.
Khutbah Kedua
الحمد لله حمدًا كثيرًا طيبًا مباركًا فيه كما يحب ربنا ويرضى. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا محمدًا عبده ورسوله.
اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita jadikan Idul Adha ini sebagai momentum memperbaiki hubungan dengan Allah dan hubungan dengan sesama manusia. Semoga ibadah qurban melahirkan jiwa yang ikhlas, dermawan, dan penuh kasih sayang.
Jangan biarkan qurban hanya menjadi seremoni tahunan. Jadikan ia sebagai jalan untuk mendekat kepada Allah dan memperkuat ukhuwah di tengah masyarakat.
Mari kita doakan kaum muslimin di berbagai penjuru dunia yang sedang menghadapi kesulitan, bencana, kemiskinan, dan peperangan. Semoga Allah memberikan pertolongan dan rahmat-Nya kepada mereka.
اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات، والمؤمنين والمؤمنات، الأحياء منهم والأموات.
اللهم تقبل منا قرباننا وطاعاتنا وعباداتنا.
اللهم اجعل هذا البلد آمنا مطمئنا وسائر بلاد المسلمين.
ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.
عباد الله، إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلكم تذكرون.
فاذكروا الله العظيم يذكركم واشكروه على نعمه يزدكم، ولذكر الله أكبر، والله يعلم ما تصنعون.













