Di tanah Banua, nama seorang guru tidak selalu dikenang karena riuh panggung atau sorot lampu. Ada nama yang tumbuh pelan-pelan di hati orang banyak, seperti air yang meresap ke tanah kering. Tidak gaduh, tetapi menghidupkan. Tidak memaksa, tetapi memanggil pulang.
Salah satu nama itu adalah Tuan Guru Haji Muhammad Bakhiet bin KH. Ahmad Mughni, yang lebih akrab disebut Guru Bakhiet.
Beliau lahir pada 1 Januari 1966 di Telaga Air Mata, Kampung Arab, Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Dari garis ayahnya, Guru Bakhiet bersambung kepada keluarga ulama besar Banjar, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Namun, dalam banyak kisah tentang dirinya, yang lebih sering dikenang bukanlah kebesaran nasab itu, melainkan sikapnya yang enggan menonjolkan silsilah. Di situlah wibawanya terasa: ia besar bukan karena menyebut asal-usul, tetapi karena menundukkan diri di hadapan ilmu dan adab.
Jalan ilmu Guru Bakhiet tidak dibangun dari ruang kelas yang panjang. Pendidikan formalnya hanya sampai kelas IV sekolah dasar. Tetapi sebagaimana banyak ulama besar di Nusantara, sekolah kehidupan justru membentang jauh lebih luas. Ia belajar dari ayahnya, Tuan Guru Haji Ahmad Mughni, lalu menimba ilmu di Pondok Pesantren Ibnul Amin Pamangkih, Darussalam Martapura, hingga Darussalamah Mangun Jaya. Setelah itu, ia kembali ke Barabai, menyambung pengembaraan ilmunya kepada para ulama di sekitarnya.
Dari ayahnya, ia banyak mengambil ilmu batin dan tasawuf. Dari guru-guru lainnya, ia mempelajari fikih, bahasa Arab, nahwu, hingga ilmu falak. Ilmu itu tidak berhenti sebagai hafalan. Di tangan Guru Bakhiet, ilmu menjadi laku. Menjadi tutur yang menenangkan. Menjadi majelis yang membuat orang datang bukan hanya untuk mendengar, tetapi juga untuk pulang dengan hati yang lebih lembut.
Di Barabai dan Balangan, majelisnya menjadi tempat bernaung banyak orang. Mereka datang dari berbagai arah, membawa letih kehidupan, keresahan batin, dan dahaga rohani. Di hadapan Guru Bakhiet, orang-orang seperti menemukan jeda. Sejenak, dunia yang bising itu mengecil. Yang terdengar tinggal nasihat, zikir, dan ajakan untuk kembali memperbaiki diri.
Kharisma Guru Bakhiet tidak lahir dari jarak yang dibuat-buat. Ia justru tumbuh dari kesederhanaan. Dari sikap tenang. Dari kemampuan untuk tidak mudah tergoda oleh dunia. Dalam catatan tentang dirinya, Guru Bakhiet dikenal menjauh dari kepentingan politik, menolak pemberian yang berpotensi mengikat, dan menjaga sikap netral dalam urusan kekuasaan. Ia seakan ingin mengatakan bahwa seorang guru harus tetap menjadi telaga, bukan arus yang terseret kepentingan.
Pada 1993, perjalanan spiritualnya memasuki babak penting ketika ia dikirim ke Bangil, Surabaya, untuk mengambil Tarekat Alawiyah dari Habib Zein Al Abidin Ahmad Alaydrus. Dari jalan tarekat inilah pengaruh dakwahnya semakin luas. Pengajian yang semula berlangsung di Pondok Pesantren Hidayaturrahman Barabai kemudian berkembang, berpindah tempat karena jamaah terus bertambah, hingga kelak terkait dengan tumbuhnya Pondok Pesantren Nurul Muhibbin dan kawasan pengajian yang lebih luas di Paringin.
Namun, yang membuat sosok Guru Bakhiet terus hidup dalam ingatan bukan semata jumlah jamaah. Bukan pula hanya nama besar tarekat yang beliau bawa. Yang tinggal di hati banyak orang adalah rasa teduh itu: cara seorang guru memandang dunia tanpa ingin memilikinya, cara seorang alim menjaga jarak dari pujian, cara seorang mursyid mengajak manusia membersihkan hati tanpa merasa paling suci.
Di tengah zaman yang semakin mudah memamerkan kesalehan, Guru Bakhiet hadir sebagai kebalikan yang lembut. Ia tidak banyak berbicara tentang siapa dirinya. Tetapi orang-orang melihat siapa beliau dari jalan hidupnya. Dari kecintaannya kepada para habaib. Dari kepeduliannya kepada janda dan orang miskin. Dari kebiasaannya memberi, bukan mengambil. Dari sikap wara’ yang membuatnya berhati-hati terhadap dunia.
Sosok seperti Guru Bakhiet mengingatkan bahwa ulama bukan hanya orang yang pandai menjawab pertanyaan agama. Ulama adalah orang yang keberadaannya membuat orang lain ingin menjadi lebih baik. Ia tidak harus keras untuk dihormati. Tidak harus tinggi suara untuk didengar. Tidak harus dekat dengan kekuasaan untuk berpengaruh.
Justru dalam kesunyian, pengaruh itu tumbuh.
Guru Bakhiet adalah cerita tentang ilmu yang berjalan bersama adab. Tentang nasab yang tidak dijadikan mahkota. Tentang majelis yang tidak sekadar mengumpulkan manusia, tetapi menuntun hati. Tentang seorang guru yang memilih jalan sunyi, namun dari kesunyian itulah ribuan orang menemukan arah.
Di Banua, namanya disebut dengan hormat. Bukan hanya karena beliau seorang alim, tetapi karena pada dirinya orang-orang melihat sesuatu yang hari ini semakin langka: ketenangan yang tidak dibuat-buat, keteguhan yang tidak banyak bicara, dan cahaya yang tidak meminta dilihat.
Dan mungkin begitulah seharusnya seorang guru dikenang.
Bukan karena ia meninggikan dirinya di hadapan murid-muridnya, melainkan karena ia membuat murid-muridnya merasa lebih dekat kepada Allah.













