Indonesiainside.id – Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Pemkot Tangsel) meminta masyarakat bersabar terkait proses penanganan dan penataan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang.
Pemkot memastikan seluruh langkah perbaikan teknis terus berjalan bertahap, sembari menerima kritik publik sebagai masukan penting untuk memperkuat kebijakan pengelolaan sampah ke depan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tangsel, Bani Khosyatulloh, menjelaskan bahwa pekerjaan teknis di TPA Cipeucang saat ini sedang dikerjakan secara bertahap. Penanganan tidak dapat dilakukan sekaligus karena TPA harus tetap beroperasi menampung sekitar 250 ton sampah setiap harinya.
“Kami memohon masyarakat bersabar. Ada tahapan teknis yang harus dipenuhi agar proses penataan benar-benar aman dan berkelanjutan. Perbaikan berlangsung setiap hari, tetapi tetap harus menjaga stabilitas lahan dan operasional TPA Cipeucang,” kata Bani dalam keterangan resmi, Jumat (12/12).
Saat ini, Pemkot Tangsel tengah fokus menata ulang zona aktif, memperkuat struktur tanah di area berisiko, meningkatkan kapasitas pemilahan sampah, serta menata akses operasional. Bani menyebut, kendala teknis dan administrasi, seperti pengujian struktur dan pengaturan alur pembuangan, membutuhkan waktu penyelesaian.
DLH Tangsel menegaskan pihaknya tidak tinggal diam dan telah membuka ruang dialog dengan berbagai komunitas lingkungan, akademisi, dan tokoh masyarakat untuk mencari solusi terbaik bagi penataan Cipeucang.
“Kami hanya membutuhkan ruang untuk menyelesaikan tahapan yang sudah berjalan. Kritik warga kami terima sebagai masukan untuk pengelolaan sampah yang lebih baik,” ujar Bani.
Selain itu, DLH Tangsel mengajak warga untuk turut mendukung upaya ini melalui pengurangan timbulan sampah dari rumah tangga, pengolahan sampah organik mandiri, dan pemanfaatan bank sampah.
“Tujuan kami sama dengan warga, yakni menciptakan Tangsel yang lebih bersih dan pengelolaan Cipeucang yang modern,” tegasnya.
Pemkot Tangsel berkomitmen akan terus memperbarui perkembangan penanganan TPA Cipeucang dan membuka ruang dialog berkelanjutan.
Di sisi lain, pengamat kebijakan publik, Yanuar Wijanarko, menilai persoalan TPA Cipeucang memang tidak mudah diselesaikan dalam waktu singkat. Ia mengakui Pemkot Tangsel telah mengambil langkah teknis yang diperlukan.
“Pengelolaan sampah bukan pekerjaan sederhana. Ada kendala teknis, dinamika lahan, dan kebutuhan koordinasi lintas pihak. Upaya pemerintah tidak cukup tanpa dukungan masyarakat,” kata Yanuar.
Meski demikian, ia menyoroti keluhan sebagian warga mengenai sampah yang belum terangkut akibat adanya pembatasan operasional. Yanuar meminta proses perbaikan TPA Cipeucang harus disertai mitigasi agar tidak memicu persoalan baru, seperti penumpukan sampah di permukiman yang dapat memicu penyakit.
Menurutnya, prioritas Pemkot Tangsel saat ini harus mencakup dua sisi: memastikan perbaikan struktural di TPA berjalan, sekaligus menjaga pelayanan pengangkutan sampah di permukiman tetap stabil.
“Keduanya harus jalan beriringan. Publik bisa menerima perbaikan bertahap asal tidak berimbas pada kesehatan masyarakat,” jelasnya.
Ia juga mendorong Pemkot untuk terus memberikan informasi terbuka mengenai progres, skema pengalihan, dan solusi jangka pendek.(Nto)













