Indonesiainside.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Populer
  • Nasional
  • Politik
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Metro
  • Olahraga
  • Risalah
  • Indeks
  • Home
  • Populer
  • Nasional
  • Politik
  • Hukum
  • Ekonomi
  • Metro
  • Olahraga
  • Risalah
  • Indeks
Indonesiainside.id
No Result
View All Result
Home Narasi

Membalas dengan Menguliti Soekarno

Oleh Ady Amar
Mon, 24 Nov 2025 - 07:22
Soekarno. Foto: Istimewa

Soekarno. Foto: Istimewa

“Di balik setiap tokoh besar, selalu ada bayang-bayang yang menunggu untuk dipahami, bukan untuk dipertengkarkan.”

Polemik tentang gelar Pahlawan Nasional untuk Soeharto seperti tak ingin diakhiri, seolah sejarah memang ditakdirkan untuk terus diperdebatkan. Suara terkeras datang dari Ribka Tjiptaning, politisi PDIP yang tak pernah menyamarkan garis keturunannya. Dalam bukunya, ia menyebut diri “anak PKI” dengan kebanggaan yang sepenuhnya jujur. Bahkan judul buku itu pun dibuat provokatif, _Aku Bangga Jadi Anak PKI_, (2002).

Maka ketika ia menolak keras pemberian gelar untuk Soeharto, publik tak terkejut: bagi Ribka, Soeharto adalah sosok yang menghabisi PKI setelah pusaran kelam G30S. Luka keluarga, bagi siapa pun, tak pernah bisa dinegosiasikan.

Namun sejarah kita selalu punya bayangan yang tak kalah bising. Begitu Soeharto dipersoalkan, segera muncul gelombang balasan dengan menguliti Soekarno. Lewat TikTok dan potongan video yang dipilin sepotong-sepotong, ditonjolkan pidato Bung Karno saat hari lahir PKI; cuplikan pidato yang seakan menunjukkan ia memuja-muja partai itu.

Baca Juga

Pemerintah Tetapkan 1 Zulhijah 1447 H pada 18 Mei 2026, Iduladha Jatuh 27 Mei

Pemerintah Tetapkan 1 Zulhijah 1447 H pada 18 Mei 2026, Iduladha Jatuh 27 Mei

17/05/2026 - 20:43
Dari KF-21 Boramae hingga AI: Kemlu RI Tegaskan Korea Selatan Mitra Strategis Jangka Panjang

Dari KF-21 Boramae hingga AI: Kemlu RI Tegaskan Korea Selatan Mitra Strategis Jangka Panjang

17/05/2026 - 11:54

Narasinya sederhana tetapi ganas, jika Soeharto ditolak karena dosa HAM, maka Soekarno pun jangan dibersihkan dari keterlibatannya dalam G30S.

Bahkan membuka “aib” Soekarno, jika itu aib, dengan terang benderang. Yang tadinya tertutup rapat–segan membicarakan tokoh bangsa satu ini–kini membukanya lebar-lebar, yang itu tak semestinya.

Inilah wajah paling muram yang dimunculkan. Dan itu membalas perdebatan sejarah dengan membuka aib baru, seakan masa lalu adalah ajang mengadili tokoh yang tak lagi bisa membela diri. Menyisahkan sorak-sorai rendah dari publik yang lupa bahwa membuka luka tidak sama dengan menyembuhkan bangsa.

Pertarungan opini semacam ini hanya menegaskan satu hal, kita memang belum dewasa dalam memperlakukan sejarah.
Kita melupakan bahwa Soekarno dan Soeharto adalah dua kutub besar bangsa, dua figur yang sama-sama memiliki jasa, tetapi juga sama-sama menyisakan kesalahan.

Mereka bukan malaikat, tetapi juga bukan karikatur yang cukup dijelaskan dengan kata “pelaku pelanggaran HAM”.

Soekarno adalah pemimpin visioner yang besar oleh gagasan-gagasan mercusuar, tetapi ia pun tak luput dari ambisi yang mengguncang stabilitas politik. Soeharto membawa pembangunan yang dirasakan jutaan orang, tetapi ia juga meninggalkan jejak panjang represi dan ketakutan. Sejarah kita bekerja dalam paradoks antara yang membangun dan yang merusak sering datang dari tangan yang sama.

Karena itu, memaksa publik memilih antara mencintai salah satu dan membenci yang lain adalah perangkap kekanak-kanakan. Yang lebih penting adalah kemampuan untuk menempatkan keduanya dalam konteks yang utuh—tanpa kultus, tanpa kutukan.

Sedang yang perlu diperbaiki bukanlah siapa yang harus lebih dipermalukan dari yang lain, tetapi cara kita memandang masa lalu.

Membuka fakta sejarah penting, tetapi harus dilakukan dengan kesadaran, bukan dengan dendam. Mengkritisi tokoh bangsa perlu, tetapi bukan dengan pendekatan balas-membalas yang menihilkan kebijaksanaan.

Bangsa yang matang bukan bangsa yang berlomba mengubur reputasi pemimpinnya, melainkan bangsa yang berani mengakui kompleksitas para tokohnya. Kita tak perlu mengultuskan Soekarno, dan tak perlu mensterilkan Soeharto.

Sedang yang kita butuhkan adalah keberanian untuk memahami—bahwa sejarah tidak pernah hitam-putih, dan bahwa kita bertanggung jawab untuk menatapnya dengan jernih.

Karena pada akhirnya, yang menyedihkan adalah ketika kita tidak mampu menarik pelajaran dari jejak kelam yang pernah kita lalui.**

Tags: HeadlinePahlawanSejarahSoehartosoekarno
ShareTweetSendShare

Rekomendasi Berita

Prabowo Dorong Kampus Jadi Problem Solver Daerah
Narasi

Prabowo Kunjungi Museum Marsinah, Jejak Buruh Jadi Sorotan

16/05/2026 - 11:48
Banding Vonis Bebas Kasus Baznas, Jaksa Jangan Permalukan Hukum di Depan Publik 
Narasi

Banding Vonis Bebas Kasus Baznas, Jaksa Jangan Permalukan Hukum di Depan Publik 

15/05/2026 - 10:00
Prof Tafsir  dan Sumbangsihnya terhadap Dunia Pendidikan
Narasi

Mama, Kenapa Ayah Diborgol

10/05/2026 - 13:58
Potret Buram Penegakan Hukum di Daerah: Ketika Hakim Masih Menjaga Nurani Keadilan
Narasi

Fakta Persidangan Kasus Korupsi BAZNAS Enrekang

08/05/2026 - 10:24
Malaysia Kecam Keras Serangan Israel ke Iran: Dunia Tak Butuh Perang Baru!
Narasi

Gencatan senjata AS-Iran Rapuh?

10/04/2026 - 16:12
hp
Narasi

Puasa dan Etika Bermedia Sosial

13/03/2026 - 02:15

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Berita Populer

Dari KF-21 Boramae hingga AI: Kemlu RI Tegaskan Korea Selatan Mitra Strategis Jangka Panjang

Dari KF-21 Boramae hingga AI: Kemlu RI Tegaskan Korea Selatan Mitra Strategis Jangka Panjang

17 May 2026
Wabah Ebola Spesies Langka Bundibugyo Mengganas, Belum Ada Vaksin

Wabah Ebola Spesies Langka Bundibugyo Mengganas, Belum Ada Vaksin

17 May 2026
MBG Tersendat karena Gas Elpiji, Pertamina Patra Niaga Gerak Cepat Isi Pasokan

MBG Tersendat karena Gas Elpiji, Pertamina Patra Niaga Gerak Cepat Isi Pasokan

17 May 2026
Setelah Maung Garuda, Prabowo Minta Dibuatkan Mobil “Sapa Rakyat”

Setelah Maung Garuda, Prabowo Minta Dibuatkan Mobil “Sapa Rakyat”

17 May 2026

Podcast

Indonesia Poros Maritim Dunia? Tapi Kapal Perangnya Sudah Uzur
Podcast

Indonesia Poros Maritim Dunia? Tapi Kapal Perangnya Sudah Uzur

22/08/2025 09:37

Dunia tidak baik-baik saja. Perang bisa pecah kapan saja, dari Laut Cina Selatan sampai Ambalat. Indonesia memang bangga disebut negara...

Headline

Setelah Maung Garuda, Prabowo Minta Dibuatkan Mobil “Sapa Rakyat”

Setelah Maung Garuda, Prabowo Minta Dibuatkan Mobil “Sapa Rakyat”

17/05/2026 10:46
MBG Tersendat karena Gas Elpiji, Pertamina Patra Niaga Gerak Cepat Isi Pasokan

MBG Tersendat karena Gas Elpiji, Pertamina Patra Niaga Gerak Cepat Isi Pasokan

17/05/2026 10:38
Wabah Ebola Spesies Langka Bundibugyo Mengganas, Belum Ada Vaksin

Wabah Ebola Spesies Langka Bundibugyo Mengganas, Belum Ada Vaksin

17/05/2026 07:12
Ketika Orang-Orang di Dekat Prabowo “Curi Uang Rakyat”

Prabowo Jadikan MBG dan Koperasi Merah Putih Jadi Mesin Ekonomi Desa

16/05/2026 17:25
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber
  • Pedoman Penggunaan AI
  • Privacy Policy
Indonesiainside.id

© 2026 by MediatrustPR. All Right Reserved.

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita Populer
  • News
    • Nasional
    • Politik
    • Hukum
    • Humaniora
    • Internasional
    • Nusantara
  • Ekonomi
  • Agribisnis
  • Migas
  • Metropolitan
  • Palestina
  • Khazanah
  • Lifestyle
  • Olahraga
  • Tekno
  • Risalah
  • Narasi
  • Indeks Berita

© 2026 by MediatrustPR. All Right Reserved.