Indonesiainside.id, Jakarta – Ratusan orang suporter Arema meninggal dunia dalam kerusuhan yang terjadi di stadion Kanjuruhan Malang.
Peristiwa ini menarik, PSSI dan LIB disebut tetap menggelar pertandingan pada malam hari, dikarenakan besarnya nilai komersial yang didapat televisi dari iklan, jika siaran pertandingan itu tetap terjadual pada malam hari di waktu prime time.
Padahal sebelumnya, pihak kepolisian sudah meminta agar jadwal pertandingan ini diubah menjadi sore. Hal ini mengingat besarnya potensi kerawanan.
Tetapi laga Arema FC vs Persebaya tetap kickoff, Sabtu (1/10) pukul 20.30 WIB. Dalam laga itu, Singo Edan akhirnya tumbang 2-3 dari Bajul Ijo.
Pihak kepolisian sebelumnya sudah bersurat agar laga digelar sore hari saja, yakni 15.30 WIB.
Menkopolhukam, Mahfud MD, dalam keterangannya kepada wartawan juga mempertanyakan mengenai keputusan PT LIB dan Panitia Pelaksana pertandingan Arema FC tetap menginginkan kickoff malam hari.
“Sebenarnya sejak sebelum pertandingan pihak aparat sudah mengantisipasi melalui koordinasi dan usul-usul tenis di lapangan. Misal, pertandingan agar dilaksanakan sore (bukan malam), jumlah penonton agar disesuaikan dgn kapasitas stadion yakni 38.000 orang. Tapi usul-usul itu tidak dilakukan oleh Panitia yang tampak sangat bersemangat. Pertandingan tetap dilangsungkan malam, dan ticket yang dicetak jumlahnya 42.000,” kata Mahfud.
Kapolres Malang dalam surat tertanggal 18 September 2022 ditandatangani langsung Kapolres Malang AKBP Ferli Hidayat. Meminta laga ini dipercepat ke sore hari dengan alasan keamanan.
Surat ini merupakan rujukan atas surat Panpel Arema FC Nomor:014/PANPEL/ARM/IX/2022 tanggal 12 September 2022 perihal rekomendasi pertandingan dan bantuan keamanan pertandingan sepakbola antara Arema FC vs Persebaya Surabaya. Dalam rujukan itu, terdapat perkiraan intelijen singkat soal kerawanan laga Arema FC vs Persebaya.
“Sehubungan dengan rujukan di atas, bersama ini mohon bantuannya kepada Panpel Arema FC agar mengajukan surat permohonan perubahan jadwal pertandingan sepak bola BRI Liga 1 Tahun 2022 kepada PT. Liga Indonesia terkait rencana pertandingan sepak bola antara Arema FC vs Persebaya pada hari Sabtu tanggal 1 Oktober 2022 yang sedianya main pada pukul 20.00 WIB agar diajukan menjadi pada pukul 15.30 WIB dengan pertimbangan keamanan,” bunyi surat dari Kapolres Malang.
Surat itu kemudian mendapat jawaban PT Liga Indonesia Baru, yang diteken Dirut LIB Akhmad Hadian Lukita pada 19 September 2022.
“Sehubungan dengan rujukan tersebut di atas, maka perkenankanlah kami PT. Liga Indonesia Baru (PT. LIB) menyampaikan bahwa meminta kepada Klub Arema FC untuk berkoordinasi secara optimal kepada pihak keamanan dalam hal ini khususnya dengan KAPOLRES Malang untuk TETAP melaksanakan pertandingan BRI Liga 1-2022/2023 NP 96 antara Arema FC vs PERSEBAYA Surabaya DILAKSANAKAN SESUAI DENGAN JADWAL YANG TELAH DITENTUKAN,” bunyi surat PT LIB.
Hal ini pula yang dipertanyakan oleh Menko Polhukam Mahfud MD.
“Saya sudah mendapat informasi dari Kapolri Jenderal Listyo Sigit. Saya juga sudah berkordinasi dengan Kapolda Jatim Irjen Nico Afinta. Pemerintah menyesalkan atas tragedi Kanjuruhan. Pemerintah akan menangani tragedi ini dengan baik. Kepada keluarga korban kami menyampaikan belasungkawa. Kami juga berharap agar keluarga korban bersabar dan terus berkordinasi dengan aparat dan petugas pemerintah di lapangan. Pemda Kabupaten Malang akan menanggung biaya rumah sakit bagi para korban,” kata Mahfud dalam rilisnya.
“Sebenarnya sejak sebelum pertandingan pihak aparat sudah mengantisipasi melalui kordinasi dan usul-usul teknis di lapangan. Misal, pertandingan agar dilaksanakan sore (bukan malam), jumlah penonton agar disesuaikan dengan kapasitas stadion yakni 38.000 orang. Tapi usul2 itu tidak dilakukan oleh Panitia yang tampak sangat bersemangat. Pertandingan tetap dilangsungkan malam, dan ticket yang dicetak jumlahnya 42.000,” kata dia menambahkan.
Sementara itu pakar komunikasi menilai bahwa hilangnya nyawa tidak bisa dibandingkan dengan apapun termasuk pertandingan sepak bola.
“Jika memang ada sesuatu yang harus diubah atau diperbaiki, harus berbesar hati untuk melakukannya. Tidak ada nilai pertandingan sepak bola apapun yang setara dengan satu saja nyawa yang hilang,” kata Pakar komunikasi, Rahmat Edi Irawan dilansir Tribratanews, Senin (3/10).
Tragedi Kanjuruhan, menjadi duka mendalam bagi bangsa Indonesia, dan sekitar 125 orang dipastikan meninggal dalam tragedi yang merupakan tragedi dengan korban terbesar kedua di dunia.(Nto)













