Indonesiainside.id – Sekolah Kepemimpinan Kartini (KALIS), yang diinisiasi oleh Kartini Society, KartiniLove.ai, Cahaya Rancamaya Islamic Boarding School, Pribadi Premiere School, Pemda Jepara, dan SheCodes Society Binus University, menyelenggarakan kegiatan pelatihan kepemimpinan di Pribadi Premiere School, Tirtajaya, Depok, Jawa Barat.
Program ini dirancang untuk menumbuhkan kepercayaan diri, kemampuan komunikasi, serta membangun jejaring profesional yang kuat agar perempuan mampu menjadi pemimpin berintegritas dan berdaya saing.
“Ini merupakan hari kedua, setelah sebelumnya kegiatan serupa dilakukan di sekolah Cahaya Rancamaya. Jadi ini piloting dari KartiniLove.ai untuk mendorong kepemimpinan perempuan di semua sektor dan mengatasi semua hambatan yang ada selama ini,” kata Ketua Tim Pelaksana KartiniLove.ai, Inggrid Silitonga, Minggu (02/11).
KALIS dirancang untuk membangun kepercayaan diri, kemampuan komunikasi, dan kemampuan pemecahan masalah, sehingga peserta dapat menjadi pemimpin yang efektif, inklusif, dan berintegritas. Juga mereka yang ikut serta, akan mampu berkontribusi positif bagi organisasi dan masyarakat.
“Selama ini ada kesenjangan sosial, kemiskinan, juga kekerasan yang angkanya meningkat pada perempuan, itu menjadi latar belakang penyelenggaraan kegiatan ini,” ujarnya.
Selain KALIS, KartiniLove.ai juga mengelar kegiatan lainnya antara lain, Kartini International Women Leader Summit yang akan diselanggarakan di Jepara tanggal 21 April 2026 dan KALIS go to Leiden 2026 di Belanda.
“Kami juga mengundang salah satu NGO yang mana mereka terkait dengan penguatan UMKM. Jadi mereka yang melakukan pemberdayaan ke UMKM di mana foundernya perempuan,” lanjutnya.
Terkait kegiatan ini dilakukan dengan menggandeng Pribadi Premiere School, menurut Inggrid, hal itu dikarenakan KartiniLove.ai dan Sekolah Pribadi dinilai memiliki visi serupa yakni memajukan peran perempuan dalam berbagai bidang.
“Salah satu mimpi Kartini adalah perempuan yang masuk melalui dunia pendidikan, baik memperoleh pendidikan sendiri maupun menjadi guru, misalnya. Itu membuka pintu bagi perempuan untuk keluar dari masalah-masalah kekerasan, kemiskinan dan lainnya,” tambahnya.
Founder Kartinilove.ai Assoc. Professor Awaludin Marwan, SH, MH, MA, PhD menambahkan, sekolah ini hadir sebagai bentuk Kartini Society dalam mengkampanyekan profil perempuan Indonesia.
“Perempuan Indonesia itu cerdas (seperti kartini) dan berani (seperti Laksamana Malahayati, Cut Nyak Dien, dan lainnya,” kata Awaludin Marwan.
General Manager Sekolah Cahaya Rancamaya, Dr. Ari Rosandi, yang ikut hadir di Pribadi Premiere Depok, mengatakan tujuan dari Sekolah Kepemimpinan Kartini ini adalah menggali pemikiran Kartini dan merakitnya dalam modul kepemimpinan (perspektif) perempuan.
“Ini untuk mendorong perempuan menanamkan semangat Kartini di berbagai bidang, termasuk dunia pendidikan,” kata Ari Rosandi.

Sedangkan, General Manager Sekolah Pribadi Depok dan Pribadi Premiere GFC Fatih Pasaoglu, menyambut baik kegiatan Sekolah Kepemimpinan Kartini (KALIS). Menurutnya, melalui sekolah kepemimpinan ini para guru akan mendapatkan motivasi untuk berprestasi dalam bidang pendidikan.
“Apalagi, peran wanita secara average atau rata-rata itu di bawah laki-laki. Ini belum lagi masalah angka kematian ibu dan anak ya. Jadi melalui kegiatan ini para perempuan dimotivasi untuk berperan di bidangnya masing-masing untuk memajukan perempuan, mengatasi kesenjangan serta kemiskinan,” kata Fatih.
Dia menuturkan, peran perempuan sangat penting dalam keluarga dan juga di bidang lainnya. Dia mencontohkan bagaimana seorang ibu berada di garis depan dalam pendidikan anak-anaknya, juga bagi keluarganya.
“Jadi seorang perempuan, seperti ibu, dia akan jadi guru bagi anak-anaknya di rumah, dia juga menyiapkan bagaimana agar keluarganya dapat asupan makanan yang baik dan bergizi, yang semuanya memiliki manfaat di masa datang. Itu karenanya pemberdayaan perempuan sesuai dengan semangat yang dibawa Kartini itu perlu didukung,” jelasnya.
Penulis buku trilogi Kartini, Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro yang juga Menteri Pendidikan dan Kebudayaan periode 1993-1998, menyatakan, kesetaraan gender yang terjadi di Indonesia sudah berjalan. Hanya saja yang menjadi catatan, hal ini berjalan dengan lambat.
“Kesetaraan gender itu jalan, tetapi perkembangannya lambat,” katanya.
Prof Warjiman mengelompokkan hal itu dalam delapan (8) bidang atau kriteria, yaitu, partisipasi perempuan dalam perekonomian, layanan kesehatan bagi perempuan, akses pada pendidikan, stereotip/persepsi/budaya yang menghambat perempuan untuk maju, memperkuat kerangka perempuan dalam pengambil keputusan,partisipasi perempuan dalam pengambil keputusan, perlindungan terhadap kekerasan perempuan dan anak, dan hak migran perempuan dan perlindungannya.
“Indonesia itu besar, kalau di kota-kota, kesetaraan gender itu terjadi, tapi coba lihat ke desa-desa, apalagi yang terpencil, itu terjadi, masyarakat masih kuat menggunakan Patriarki yakni mengutamakan laki-laki daripada perempuan ,” lanjutnya.

Sekolah Kepemimpinan Kartini Diresmikan Menteri PPPA dan Menteri PANRB
Pada kegiatan sebelumnya, hadir Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Rini Widyantini dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi. Mereka menjadi narasumber dalam Kegiatan Sekolah Kepemimpinan Kartini (KALIS) di Cahaya Rancamaya Islamic Boarding School Bogor, Jawa Barat, Sabtu (18/10/2025).
Adapun kegiatan ini mengusung tema “Kepemimpinan Perempuan dalam Struktur dan Kultur Birokrasi”.
Menteri Rini dalam kesempatan tersebut menyampaikan untuk membuka ruang bagi kepemimpinan perempuan di birokrasi, diperlukan langkah-langkah yang konkret. Dijelaskan, setidaknya ada empat pendekatan utama yang bisa menjadi strategi bersama.
Pertama, melalui legislasi dan kebijakan yang berpihak. Kedua, dengan transformasi budaya organisasi. Ketiga, melalui teladan dan kepemimpinan.
“Terakhir yang keempat, yakni women support women, dimana diperlukan penguatan ekosistem yang saling mendukung antarperempuan,” kata Menteri Rini.
Sedangkan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi memberikan apresiasi atas berdirinya Sekolah Kepemimpinan Perempuan Kartini yang diinisiasi oleh Kartini Love AI. Hal ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat kapasitas dan keberanian perempuan dalam berpartisipasi aktif pada proses pengambilan keputusan di berbagai bidang pembangunan.
“Ini untuk memastikan perempuan tidak kehilangan ruang. Perempuan harus didorong untuk berani bicara. Namun, masih banyak perempuan yang belum berani untuk berbicara. Maka, Sekolah Kepemimpinan Kartini ini harus kita dukung bersama,” ujar Arifah.
Sekolah Kepemimpinan Kartini hadir untuk memberdayakan perempuan melalui pengembangan diri secara holistik, mencakup peningkatan kapasitas pribadi, dan kepemimpinan. Selain itu, peserta juga dibekali pemahaman hukum, khususnya terkait Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS), agar perempuan memahami hak-haknya dan berani mengambil langkah hukum dalam memperjuangkan keadilan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 2024, perempuan berjumlah 49,88 persen dari total penduduk Indonesia. Namun, hanya 22,46 persen di antaranya yang menduduki kursi parlemen. Menurut Arifah, data ini menunjukkan bahwa ruang partisipasi dan kepemimpinan perempuan masih perlu terus diperluas.
“Kepemimpinan perempuan juga perlu dilihat secara lebih luas, tidak hanya di lembaga politik, tetapi juga di sektor lainnya, baik di lembaga pemerintahan, sektor swasta, dunia pendidikan, maupun di tingkat desa,” katanya. (Nto)













