Oleh: Nurcholis |
Maduro memperingatkan Presiden AS, Donald Trump, akan meninggalkan Gedung Putih “dengan berlumur darah”
Indonesiainside.id, Jakarta–Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, menyatakan tidak bisa memastikan perang saudara tidak akan terjadi di negaranya selagi tekanan menguat agar dia mundur dari jabatan.
Dalam wawancara dengan televisi, Maduro memperingatkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, akan meninggalkan Gedung Putih “dengan berlumur darah” jika turut campur dalam urusan Venezuela.
“Hari ini tiada seorang pun yang bisa menjawab pertanyaan itu dengan kepastian,” ujarnya saat ditanya apakah krisis di Venezuela dapat berujung pada perang saudara.
“Semuanya tergantung pada taraf kegilaan dan agresivitas kerajaan utara (AS) dan sekutu-sekutu Baratnya.
“Kami meminta agar tiada seorang pun ikut campur pada urusan dalam negeri kami…dan kami mempersiapkan diri untuk membela negara kami,” papar Maduro dalam program televisi Spanyol, Salvados dikutip BBC.
Sebelumnya, Presiden Trump menyatakan kepada stasiun televisi CBS bahwa penggunaan kekuatan militer adalah “sebuah pilihan”.
Menanggapi pernyataan ini, Maduro memperingatkan Trump bahwa dia berisiko mengulangi perang Vietnam jika turut campur urusan Venezuela.
“Setop. Setop. Donald Trump! Anda berbuat kesalahan sehingga tangan Anda akan berlumur darah dan Anda akan meninggalkan masa jabatan kepresidenan dengan darah,” cetus Maduro.
“Marilah saling menghormati, atau apakah Anda ingin mengulangi Vietnam di Amerika Latin?”
Sejumlah pelajar berkumpul di salah satu kawasan di Caracas, 16 Januari lalu, dengan latar belakang mantan Presiden Hugo Chavez.
Minggu (3/2) adalah tenggat yang ditetapkan sejumlah negara Eropa, termasuk Prancis, Inggris, Jerman, dan Spanyol, terhadap Maduro untuk menetapkan pemilihan ulang presiden .
Negara-negara tersebut menegaskan bakal mengakui pemimpin oposisi, Juan Guaido, sebagai presiden sementara Venezuela jika Maduro tetap berkeras tidak menggelar pilpres.
Ultimatum itu dijawab tegas oleh Maduro.
“Kami tidak menerima ultimatum dari siapapun. Itu kedengarannya seperti saya berkata kepada Uni Eropa: ‘Saya beri waktu tujuh hari kepada Anda untuk mengakui Republik Catalonia, dan jika tidak, kami akan mengambil tindakan’.
“Tidak, politik internasional tidak bisa dilandaskan pada ultimatum. Itu jamannya kekaisaran dan daerah jajahan,” cetusnya.
Para pejalan kaki berlalu lalang di Jembatan Internasional Simon Bolivar yang menghubungkan Venezuela dan Kolombia.
Bantuan kemanusiaan
Pada Minggu (3/2), pemimpin oposisi, Juan Guaido, menyatakan akan membangun koalisi internasional untuk mengantarkan bantuan kemanusiaan untuk rakyat Venezuela.
Karena dia tidak menguasai wilayah manapun di Venezuela, Guaido berencana mendirikan pusat pengambilan bantuan di negara-negara tetangga—tempat rakyat Venezuela paling banyak mengungsi.
Di sisi lain, Maduro menolak bantuan kemanusiaan masuk ke Venezuela.
“Kami tidak pernah menjadi negara pengemis,” kata Maduro.
Pertentangan kedua sosok ini tercermin di jalan-jalan kota besar di Venezuela.
Di Caracas, ribuan orang turun ke jalan untuk menyatakan dukungan baik kepada Presiden Maduro maupun Guaido.
Maduro mendapat sokongan dari militer. Namun menjelang rangkaian demonstrasi, Guaido menerima dukungan dari marsekal angkatan udara, Francisco Yanez—perwira berpangkat paling tinggi yang mendukung oposisi. (cak)















