Indonesiainside.id, Amman- Setidaknya 4,8 juta anak lahir selama perang Suriah sejak sembilan tahun lalu. Sementara 9.000 orang telah terbunuh atau terluka selama konflik.
Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF), mengatakan statistik menunjukkan sekitar satu juta anak dilahirkan sebagai pengungsi sejak konflik meletus pada 15 Maret 2011. Direktur eksekutifnya, Henrietta Fore, yang berada di Suriah pekan lalu, mengatakan perang adalah tonggak sejarah lain.
“Segera setelah konflik ini mencapai tahun ke-10, jutaan anak memasuki dekade kedua kehidupan yang dikelilingi oleh perang, kekerasan, kematian dan pengungsian,” katanya dikutip AFP.
Selama periode yang sama, hampir 5.000 anak-anak usia tujuh direkrut untuk perang. Sementara sebanyak 1.000 fasilitas pendidikan dan medis ikut diserang. Dampak nyata perang terhadap anak-anak mungkin lebih dalam.
Direktur Regional UNICEF untuk Timur Tengah dan Afrika Utara, Ted Chaiban, mengatakan serangan berkelanjutan oleh pasukan pemerintah di kamp-kamp pemberontak terakhir Suriah telah meninggalkan dampak yang menghancurkan pada anak-anak.
Menurut UNICEF, sejak Desember, sekitar 960.000 orang telah melarikan diri termasuk 575.000 anak-anak. Lebih dari 2,8 juta anak-anak putus sekolah di Suriah dan negara-negara tetangga sebagai akibat dari konflik.
Dua dari lima sekolah tidak dapat digunakan karena dihancurkan. Kondisinya saat ini digunakan untuk melindungi keluarga atau untuk keperluan militer. Henrietta Fore mengatakan pesan mereka jelas, hentikan serangan terhadap sekolah dan rumah sakit.
“Berhentilah membunuh dan melukai anak-anak. Beri kami akses melintasi perbatasan untuk menjangkau mereka yang membutuhkan. Terlalu banyak anak menderita terlalu lama, ”katanya dikutip AFP. (CK)















