Indonesiainside.id – Dalam acara Podcast Madilog Forum Keadilan yang digelar Kamis malam (16/10), politisi dan analis politik Eep Saefullah Fatah mengkritik keras mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) atas sikap inkonsistensinya yang menurutnya serius mengancam demokrasi Indonesia.
Eep menilai bahwa Jokowi sejak awal tidak konsisten terhadap janji-janji awalnya, terutama soal keterlibatan keluarganya dalam politik.
“Jokowi tidak hanya melakukan inkonsistensi, tapi sudah terbiasa untuk tidak konsisten. Pernyataannya bahwa anak-anaknya tidak akan terjun ke politik justru dibantah oleh fakta yang ada,” tegasnya dalam Podcast Madilog Forum Keadilan, Kamis, 16 Oktober 2025.
Ia menjelaskan bahwa hal ini menunjukkan ketidaksiapan Jokowi untuk melepaskan kekuasaan dan membiarkan proses demokrasi berjalan secara sehat.
Eep menuturkan, “Ini bukan soal presidennya lagi, tapi soal paham Jokowisme yang ditinggalkan. Paham yang mempraktikkan otokratisme dalam sistem demokrasi, sebuah paradoks berbahaya yang harus dilawan.”
Ia mengingatkan bahwa paham ini sudah mereplikasi secara luas dan bisa melipatgandakan praktik-praktik kepemimpinan otoriter di dalam tubuh sistem demokrasi.
Menurut Eep, Jokowi menunjukkan tanda-tanda kecemasan yang tinggi ketika kekuasaannya berakhir pada Oktober 2024. “Jokowi adalah salah satu presiden yang paling tidak siap melepaskan kekuasaan di Indonesia,” katanya.
Ia juga menyoroti bagaimana Jokowi berusaha meninggalkan jejak kekuasaan melalui keterlibatan politik anak-anaknya.
Lebih lanjut, Eep menyoroti kegagalan Jokowi sebagai kepala negara yang seharusnya mampu melindungi lembaga seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dari tekanan politik. “Pada saat KPK tergencet, Jokowi tidak bertindak sebagai kepala negara, malah menunjukkan keberpihakan yang tidak adil,” kata Eep.
Podcast Madilog Forum Keadilan menegaskan pentingnya melawan dan memberantas Jokowisme sebagai sebuah ancaman bagi kelangsungan demokrasi dan sistem pemerintahan yang sehat di Indonesia.
“Ini bukan perlawanan terhadap Jokowi pribadi, tapi terhadap paham otoriter yang telah merasuk ke dalam demokrasi kita,” pungkas Eep secara tegas.(Cak)












