Dalam hadits dan sirah nabawiah, ditemukan fakta bahwa dalam hayat Nabi Muhammad SAW, beliau juga melakukan praktik pengobatan.
Di kalangan ulama, sampai ada yang menulis khusus mengenai pengobatan ala Rasulullah. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitabnya berjudul “Ath-Thibbu An-Nabawy”. Demikian juga Abu Nu’aim Al-Ishfahany dengan judul yang sama.
Idrus H Al-Kaff dalam buku “Petunjuk Penyembuhan Rasulullah SAW” menyebutkan ada beberapa cara atau metode penyembuhan atau pengobatan ala Nabi Muhammad SAW.
Pertama, dengan bahan-bahan alami. Kedua, dengan penyembuhan ilahiah. Ketiga, perpaduan antara keduanya.
Pengobatan badan menurut Idrus, adalah bagian dari pelengkap syariat Islam yang sempurna. Namun, tujuan pokok dan yang terpenting adalah menyembuhkan penyakit hati. Berikut pemeliharaannya agar tetap sehat serta mencegah segala yang bisa merusaknya.
Jadi, sebelum penyembuhan secara fisik, disembuhkan terlebih dahulu penyakit-penyakit hati. Dan banyak sekali anjuran dari Al-Qur`an dan hadits mengenai hal itu.
Salah satu contoh pengobatan ala Nabi, misalnya dalam mengobati sakit demam. Sabda beliau, “Sesungguhnya, demam panas itu adalah berasal dari percikan api neraka, maka dinginkanlah ia dengan air.” (HR. Bukhari, Muslim)
Hadits lainnya, “Jika salah seorang di antara kalian ditimpa demam, maka hendaklah disiramnya dengan air dingin tiga malam di waktu dini hari.” (HR. Abu Nua’aim)
Tak lupa juga Rasulullah SAW menyinggung masalah hati, “Telah diperbincangkan demam di hadapan Rasulullah SAW, lantas ada orang mencelanya. Maka Rasulullah SAW berkata: “Janganlah anda mencela demam itu. Sebab ia membersihkan dosa seperti membersikan kotoran besi.” (HR. Muslim)
Apa yang dikemukan oleh Rasulullah SAW itu, mencakup penyembuhan secara fisik sekaligus maupun hati. Bahkan, diberikan informasi sisi spiritualnya, bahwa sakit demam dalam waktu yang sama bisa membersihkan dosa.
Pada waktu lain, Rasulullah juga mengemukakan obat-obat herbal seperti madu, habbah sauda dan semacamnya sebagai obat dari beberapa penyakit. Meski demikian, beliau juga membuka diri terhadap ilmu kedokteran lain yang tidak bertentangan dengan syariat. Bahkan, beliau pernah menyuruh sahabat untuk berobat ke dokter non-muslim, karena memang spesialis di bidangnya. (Aza)






