Ibadah adalah sarana bagi setiap Muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan penuh cinta dan ketundukan. Islam mengajarkan untuk menyeimbangkan antara semangat beribadah dengan kebijaksanaan dalam menjalankannya.
INDONESIAINSIDE.ID – Sering kali, ada orang-orang yang terjebak dalam semangat berlebihan hingga akhirnya membawa risiko bagi diri mereka sendiri, baik secara fisik maupun mental. Dalam Islam, berlebihan dalam menjalankan ibadah—melebihi batas kemampuan manusia—tidak hanya dianggap tidak disarankan, tapi juga dilarang.
Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menceritakan sebuah kisah yang menjadi peringatan bagi umat Islam. Kisah ini tentang seorang pemuda yang sering menemani Syaikh Junaid al-Baghdadi, salah satu tokoh besar dalam tasawuf.
Setiap kali mendengar dzikir, pemuda tersebut selalu mengekspresikan emosinya dengan cara berteriak dan menjerit. Syaikh Junaid, yang memahami pentingnya keseimbangan dalam ibadah, memperingatkan pemuda itu agar tidak melakukan hal tersebut lagi.
Ia mengatakan bahwa jika pemuda itu terus melakukannya, ia tidak akan diizinkan untuk mendampingi majelisnya. Merasa diperingatkan, pemuda itu berusaha keras menahan dirinya dari bereaksi secara emosional dalam dzikir. Ia bahkan dikisahkan berjuang hingga keringat mengucur dari setiap pori-porinya karena menahan emosinya.
Namun, pada suatu hari, tekanan batin yang dialaminya menjadi begitu kuat. Ia tidak lagi mampu menahan diri dan akhirnya berteriak dengan sangat keras. Hal ini menyebabkan jantungnya pecah, dan ia meninggal seketika. Kisah ini adalah bukti nyata tentang bagaimana berlebihan dalam mengekspresikan emosi selama ibadah, tanpa kontrol diri, bisa membawa bahaya bagi fisik.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, Rasulullah ﷺ bersabda: “Mudahkanlah, jangan mempersulit, gembirakanlah dan jangan membuat orang lari.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini memberikan prinsip dasar dalam Islam bahwa ibadah seharusnya dilakukan dengan penuh kebijaksanaan dan tidak boleh memberatkan diri sendiri.
Lebih jauh lagi, Al-Qur’an juga memberikan petunjuk yang tegas mengenai keseimbangan dalam beribadah. Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 286, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
Ayat ini mengingatkan kita bahwa ibadah, seberat apapun, tidak boleh melampaui batas kemampuan kita sebagai manusia. Tujuan ibadah bukanlah untuk menyiksa diri, tetapi untuk mencapai kedekatan dengan Allah dengan cara yang tenang, seimbang, dan penuh kerendahan hati.
Rasulullah ﷺ juga mencontohkan hal serupa ketika ada beberapa sahabat yang ingin berlebihan dalam ibadah. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, ada sahabat yang ingin puasa sepanjang hari tanpa berbuka, ada yang ingin shalat sepanjang malam tanpa tidur, dan ada yang ingin menjauhi pernikahan karena ingin lebih fokus pada ibadah.
Rasulullah ﷺ menegur mereka dengan berkata, “Demi Allah, aku adalah orang yang paling takut dan paling bertakwa kepada Allah, tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku shalat dan aku tidur, dan aku menikah. Barang siapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia bukan bagian dari golonganku.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Pesan dari kisah ini sangat jelas: Islam adalah agama yang moderat, dan Allah tidak menyukai sikap berlebihan dalam segala hal, termasuk dalam ibadah. Ibadah yang dilakukan secara berlebihan, bahkan dengan niat yang baik, bisa berujung pada kelelahan, kerusakan fisik, dan bahkan menghilangkan makna ketenangan dalam mendekatkan diri kepada Allah.
Rasulullah ﷺ sering mengingatkan umatnya untuk mengambil jalan tengah, sebagaimana beliau bersabda: “Sesungguhnya agama ini mudah, dan tidaklah seseorang memberat-beratkan agama melainkan ia akan kalah.” (HR. Bukhari).
Penting bagi setiap Muslim untuk memahami bahwa ibadah bukan tentang jumlah atau intensitas yang berlebihan, tetapi tentang ketulusan, ketenangan, dan keteguhan hati dalam menjalankannya.
Allah lebih menyukai amal yang dilakukan dengan konsisten dan berkesinambungan, meskipun sedikit, daripada amal yang banyak tetapi memberatkan diri hingga akhirnya tidak dapat dilanjutkan.
Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ: “Amal yang paling dicintai oleh Allah adalah yang dikerjakan terus-menerus meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kesimpulannya, meskipun semangat dalam beribadah sangat penting, semangat itu harus dikendalikan dengan kebijaksanaan. Ibadah yang dijalankan dengan ketenangan, keseimbangan, dan sesuai dengan kemampuan kita, akan lebih membawa berkah dan kedekatan dengan Allah.
Jangan sampai semangat yang berlebihan justru membawa kita pada kerugian, baik fisik maupun spiritual. Islam mengajarkan untuk selalu menjaga moderasi dan tidak berlebihan dalam segala hal, termasuk dalam beribadah. (MBS)















