Mukmin Laksana Lebah

mukmin
Ilustrasi.

Dalam hadits, Nabi mengumpamakan mukmin laksa lebah dalam hal kemanfaatannya. Riwayat ini terdapat dalam “Musnad” Ahmad dan “Mustadrak” Hakim.

Berikut redaksi haditsnya:

وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ كَمَثَلِ النَّحْلَةِ أَكَلَتْ طَيِّبًا وَوَضَعَتْ طَيِّبًا وَوَقَعَتْ طَيِّبًا، فَلَمْ تَفْسُدْ وَلَمْ تُكْسَرْ

“Sedangkan perumpamaan seorang mukmin adalah seperti lebah, memakan yang baik-baik, melahirkan yang baik-baik, dan menghasilkan yang baik-baik dia tidak rusak dan tidak pula pecah.”

Mengapa diumpamakan seperti lebah? Dalam “Syarah al-Bukhari”, As-Safiri ketika mencantumkan hadits ini menjelaskan bahwa itu laksana orang yang jika engkau bersahabat, bermusyawarah dan berteman dengannya akan memberi manfaat. Semua urusanya mengandung manfaat.

Ibnu Atsir menjelaskan sisi kemiripan antara mukmin dan lebah. Pertama, dari sisi kecerdasan dan kecerdikan. Kedua, sangat kecil prosentase gangguannya. Tidak akan mengganggu, kecuali diganggu.

Ketiga, qana’ah (menerima apa adanya). Keempat, usahanya pada malam hari. Kelima, membersihkan diri dari kotoran. Keenam, baik makanannya. Ketujuh, tidak makan dari hasil kerja yang lain. Kedelapan, taat pada pemimpinnya.

Oleh karena itu, mukmin juga demikian. Ia akan menggunakan kecerdasannya untuk kebaikan. Tidak akan mengganggu orang lain, yang ada malah orang lain merasa aman saat bersamanya. Tapi, kalau dia diganggu atau diserang, maka pantang mundur untuk menjaga kehormatannya.

Hidupnya pun qana’ah, pada malam hari selalu menghidupkan hubungan yang harmonis bersama Allah, makanannya halal thayyibah, bekerja secara mandiri tidak tergantung pada santunan orang lain dan taat kepada pimpinan.

Lebah baru akan terhalang untuk bekerja ketika dalam kegelapan, mendung, angin, asap, air dan api. Demikian juga mukmin, dia akan terputus dari amal ketika ada kegelelapan kelalaian, mendung keraguan, angin fitnah, asap haram, air khamr dan api hawa nafsu.

Jadi, kata kuncinya, mukmin adalah seperti lebah adalah yang paling banyak kadar manfaatnya yang diberikan kepada manusia lainnya. Sebagaimana lebah, madu dan sengatnya bisa jadi obat, tidak pernah mengganggu, bahkan lebahnya sendiri bisa buat pepes, Semuanya bermanfaat.

Ini seiring dan sebangun dengan hadits Nabi yang mengatakan:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat pada yang lainnya.” (HR. Thabrani). (Aza)

TULIS KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here