Pengetahuan dan bimbingan dalam kehidupan merupakan kunci untuk membedakan manusia dari makhluk lain. Hal ini disampaikan oleh para ulama dalam berbagai kesempatan, menekankan pentingnya keberadaan ulama sebagai penuntun jalan hidup umat manusia.
INDONESIAINSIDE.ID – Salah satu kisah yang menggugah adalah tentang Imam Sufyan ats-Tsauri, seorang ulama besar yang pernah singgah di kota Ashkelon, namun tidak ada seorang pun yang datang menanyakan ilmu kepadanya. Melihat hal itu, ia segera memutuskan untuk meninggalkan kota tersebut, seraya berkata, “Tempat ini akan menjadi tempat di mana ilmu mati.” (Ihya’ Ulumuddin, 1/11).
Sufyan ats-Tsauri, sebagaimana banyak ulama lain, memahami betapa pentingnya penyebaran ilmu. Ia tidak ingin berada di tempat di mana orang-orang acuh terhadap ilmu agama, karena hilangnya minat belajar akan membawa manusia pada kebodohan.
Ilmu adalah cahaya, dan ulama adalah pelita yang menerangi zaman. Sebagaimana dikatakan oleh ulama besar lainnya, “Para ulama adalah lampu zaman; setiap dari mereka adalah pelita bagi zamannya yang menerangi umat di sekitarnya.”
Tak heran jika Hasan al-Bashri dengan tegas mengatakan, “Seandainya tidak ada ulama, niscaya manusia akan menjadi seperti binatang.” (Ihya’ Ulumuddin, 1/11). Pernyataan ini menunjukkan bahwa ilmu dan bimbingan para ulama-lah yang mengangkat manusia dari derajat kebodohan, atau bahkan keserupaan dengan hewan, menuju martabat kemanusiaan yang hakiki.
Ilmu yang dibawa oleh para ulama tidak hanya mengajarkan pengetahuan praktis, tetapi juga membentuk akhlak dan pemahaman mendalam tentang tujuan hidup.
Menuntut ilmu adalah salah satu kewajiban besar dalam Islam. Sayyidina Atha pernah menemui seorang ulama, Sa’id bin al-Musayyib, yang tengah menangis. Ketika ditanya mengapa ia menangis, Sa’id menjawab, “Tidak ada lagi yang datang bertanya kepadaku tentang ilmu.”
Kesedihan ini bukan tanpa alasan. Ulama adalah sumber ilmu yang memandu umat, dan tanpa mereka, manusia akan kehilangan arah. Karena itulah pentingnya bertanya dan terus belajar dari para ulama, agar umat Islam tidak terjerumus dalam kebodohan yang bisa mengakibatkan kerusakan jiwa dan kehidupan sosial.
Hal serupa juga disampaikan oleh Akrimah, seorang ulama besar, yang berkata, “Ilmu memiliki harga.” Ketika ditanya apa harganya, ia menjawab, “Menaruh ilmu kepada orang yang mampu menjaga dan tidak menyia-nyiakannya.” Ini menggambarkan betapa ilmu harus dihargai dan disebarkan kepada mereka yang benar-benar menginginkannya dan menghormati nilainya.
Tanpa bimbingan ulama, manusia akan mudah tersesat dalam dunia yang penuh tantangan dan godaan. Ulama bukan hanya penunjuk jalan dalam hal ibadah dan akhlak, tetapi juga sebagai penjaga agar umat tetap berada dalam jalur yang benar, tidak tergelincir dalam hawa nafsu yang membutakan.
Ketika manusia melepaskan diri dari bimbingan ilmu dan ulama, mereka akan kehilangan orientasi hidup yang benar, menjadi seperti hewan yang hanya mengikuti naluri dan insting belaka tanpa arah yang jelas.
Oleh karena itu, menghormati ulama, menuntut ilmu dari mereka, dan mempraktikkan ajaran yang benar adalah jalan untuk menjaga martabat kemanusiaan dan menjauhkan diri dari kerusakan moral yang dapat membuat manusia kehilangan jati dirinya. (MBS)













